Guru dan Pendidikan Karakter

Guru dan Pendidikan Karakter

Lembaga pendidikan dan guru dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan siswa yang dapat mampu menghadapi dinamika perubahan yang berkembang pesat. Perubahan yang terjadi bukan saja yang berkaitan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga menyentuh perubahan dan pergesaran nilai nilai moral yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Berbagai fenomena yang terjadi kontemporer ini seperti tawuran antar pelajar, Tindakan Kriminal, Tindakan Kejahatan kekerasan atau pembengalan, perbuatan anarkis dan lain sebagainnya. Merupakan keprihatinan semua pihak baik pemerintah maupun kalangan pendidikan, sekolah, keluarga dan masyarakat ikut bertanggung jawab atas persolan bangsa.

Persoalan Krisis Moral yang dihadapi bangsa ini merupakan kegagalan dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa. Dalam konteks pendidikan formal di sekolah, salah satu penyebabnya karena pendidikan di Indonesia lebih menitikberatkan pada pengembangan intelektual atau kognitif dan kurang memperhatikan aspek afektif, sehingga hanya tercipta generasi yang pintar, tetapi tidak memiliki karakter yang dibutuhkan bangsa.

Peranan Guru dalam mengembangkan pendidikan karakter itu sangat penting ibarat sekeping mata uang, di satu sisi sebagai pendidik dan sisi lain sebagai pengajar. Kedua peran itu dibedakan tetapi tidak pernah dipisahkan. Peran guru tidak sekedar sebagai pengajar yang bertugas hanya mencerdaskan siswa, namun guru harus mempunyai peranan sebagai pendidik untuk membentuk karakter seorang siswa dengan menanamkan nilai nilai karakter kepada siswa yang sesuai dengan budaya Indonesia.

Guru harus menjadi teladan, seorang model sekaligus mentor dari siswa dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Masyarakat sangat berharap para guru dapat menampilkan perilaku yang mencerminkan nilai nilai moral seperti nilai kejujuran, keadilan dan mematuhi kode etik professional agar siswa juga dapat mencontoh gurunya sehingga Nilai Nilai Moral itu dapat terwujud dengan sendirinya dari proses melihat dari sikap dan perilaku gurunya.

Menurut Lickona, sekolah dan guru harus mendidik karaker, khusunya melalui pengajaran yang dapat mengembangkan rasa hormat dan tanggung jawab. Sebagaimana Pendapat Daniel Goleman mengatakan bahwa keberhasilan seseorang di masyarakat , ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi ( EQ ) dan hanya 20 Persen ditentukan oleh otak. Berdasarkan pendapat terbsebut, seorang anak atau siswa yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belaja, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya dan kalau tidak ditangani bisa terjerumus kepada tindakan tindakan yang berujung pada perbuatan amoral seperti mencuri, merampok atau melakukan tindakan tindakan kejahatan lainnya, justru anak anak atau siswa yang memiliki kecerdasaran emosi yang baik akan menjadi seorang yang berkarater sehingga akan terhindar dari masalah masalah umum yang dihadapi oleh siswa seperti kenalakan, tawuran, perbuatan anarkis dan lain sebagainya.

Pendidikan karakter dapat dintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Setiap mata pelajaran yang berkaitan dengan nilai nilai dan norma seperti mata pelajaran pendidikan kewrganegaraan dan pelajaran agama dapat dikembangkan dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari hari sehingga dapat diamalkan dalam kehidupan sehari harinya di lingkungan masyarakat.

Kegiatan pendidikan dan pembelajaran adalah proses kegiatan interaksi guru dengan peserta didik atau siswa. Guru berfungsi memberikan pendidikan dan pengajaran kepada peserta didik atau siswa, sementara siswa tau peserta didik menyerap ilmu dari guru serta mengamati nilai nilai moral yang diterapkan seorang guru sebai contoh atau model, teladan baginya. Hubungan antara guru dengan siswa atau peserta didik harus dilandasi dengan sebuah cinta kasih, saling percaya, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan. Siswa bukan hanya obejek tetapi juga dalam kurun waktu bersamaan bisa menjadi subjek.

Konsep Ki Hadjar dewantara mengenai tut wurihandayani sebagai semboyan metode among merupakan contoh pendidikan karakter yang dapat diterapkan masa kini. Sistem among yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam tamansiswa. Mengemong anak berarti memberi kebebasan anak bergerak menurut kemauannya, tetapi guru akan bertindak, kalau perlu paksaan apabila keinginan anak membahayakan keselamatannya. Guru wajib mendorong anak didiknya yakni ing ngarsa sung tuladha, maksudnya bila seorang guru berada di depan diharapkan mampu menjadi teladan atau contoh yang baik bagi siswa atau peserta didik, ing madya mangun karsa, Maksudnya posisi seseorang guru di level menegah diharapkan mampu menuangkan gagasan dan ide ide yang baru untuk mendukung program yang ditetapkan, tutwuri handayani berarti pemimpin atau guru mengikuti dari belakang dan memberikan kemerdekaan bergerak kepada yang dipimpinya, tetapi handayani akan bertindak, kalau perlu paksaan apabila keinginan anak membahayakan keselamatannya atau menyelewengkan kebebasan yang telah diberikan.

Ki hajar dewantara memberikan sebuah kias sistem among dengan gambaran guru terhadap murid harus berpikir, berperasaan dan bersikap bagaikan juru tani terhadap tanaman peliharaanya, bukannya tanaman ditaklukan oleh keinginan juru tani. Juru tani menyerahkan dan mengabdikan dirinya pada kepentingan keseburan tanaman itu. Keseburan tanam inilah yang menjadi kepentingan juru tani. Juru tani tidak bisa mengubah sifat dan jenis tanaman menjadi jenis tanaman lain yang berbeda sifatnya. Dia hanya bisa memperbaiki dan memperindah jenis tanaman tersebut dengan berbagai usaha usaha dalam mengelolah tanaman tersebut.

Juru tani tidak bisa memaksa mempercepat hasi buah dari tanaman tersebut melainkan dia haru bersabar menunggu hasil buah tersebut. Oleh sebab itu seorang juru tani harus mengerti sifat dan watak serta jenis tanaman, seorang juru tani harus faham dengan ilmu mengasuh tanaman, untuk bercocok tanaman dengan sehingga menghasilakan buah yang baik. Menrut ki hajar dewantara juga mengatakan seorang juru tani tidak boleh membeda bedakan dari mana asal pupuk tersebut.
Maka seorang guru harus memeliki karakter seperti juri tani, tidak membeda bedakan satu sama lain, serta berusaha menciptakan siswa siswa yang pintar dari pengetahuannya dan berkarakter dari segi sikapnya.

Konsep yang diberikan Ki Hajar dewantara yang merupakan bapak pendidikan bangsa indonesia merupakan suatu konsep yang masih kini diterapkan dan relevan dengan budaya yang berkembang di indonesia sehingga melahirkan sebuah generasi yang berkaraketer indonesia bukan berkarakter kebarat baratan sebagaimana halnya yang terjadi pada masa kontemporer ini.

Upaya untuk mengwujudkan peradaban bangsa yang berkarakter melalui pendidikan karakter bangsa tidak pernah terlepas dari Lingkungan pendidikan baik di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Guru memiliki tanggung jawab besar dalam menghasilkan generasi yang berkarakter, berbudaya dan bermoral. Untuk mengwujudkan hal itu semua pemerintah perlu membuat suatu kebijakan yang angat ketat mengenai profesi guru, agar tercipta guru profesional, karena kejayaan suatu bangsa bukan pada sumber daya alamnya tapi kepada sumber manusianya, ia, gurulah yang menjadi patron paling eksensial menghasilakan sebuah generasi yang berkualitas dari segi intelektual dan emosional.

Penulis : Muhammad Syafitra

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *